Pernah ngga sih kalian, niat cuma buka sosmed bentar malah bablas scrolling berjam-jam. Ketawa, sedih, seneng, tapi berujung kosong dan hampa. Berasa capek, tapi bukan capek fisik, tapi capek yang aneh.
Kalau dipikir-pikir, aneh juga. Kenapa sesuatu yang kelihatannya ringan dan menyenangkan justru sering meninggalkan rasa kosong? Untuk ngerti ini, kita perlu mundur sedikit dan lihat satu hal yang jadi bahan bakar utama dunia digital: attention.
Attention
Attention adalah aset, setidaknya bagi perusahaan media digital. Semakin banyak dan lama user bertahan, maka semakin besar pula peluang monetisasi. Sehingga perusahaan di industri ini terdorong untuk terus mengembangkan cara untuk mengambil atensi kita.
Dan mereka berhasil.
Algoritma rekomendasi, infinite scroll, tombol share, notifikasi, semuanya bukan kebetulan. Itu adalah hasil optimasi panjang untuk satu tujuan: membuat kita tetap tinggal.
Mereka memanfaatkan celah dari otak kita. Mekanisme scrolling dirancang agar:
- Cepat
- Berwarna
- Emosional
- Tanpa usaha
Setiap swipe memberi rangsangan baru, dan otak kita menyukai ini karena ini hemat energi. Tapi masalahnya yang mudah dicerna, seringkali tidak mengenyangkan.
Lalu pertanyaannya: kenapa kita bisa ikut merasa hanya dengan melihat layar? Di sinilah peran mirror neuron masuk.
Mirror Neuron: Kenapa Kita Senang Melihat Orang Senang?
Yap, karena mirror neuron. Apa itu?
Mirror neuron adalah tipe sel otak yang teraktivasi bukan hanya saat kita melakukan suatu tindakan, tapi juga saat melihat orang lain melakukan hal yang sama.
Contohnya:
- Saat mengangkat gelas, neuron ini aktif.
- Saat melihat orang mengangkat gelas, neuron yang sama akan teraktifasi.
Artinya, otak kita meniru pengalaman secara emosional.
Makanya saat kita nonton:
- Pasangan romantis
- Sukses di usia muda
- Traveling
- dll
Mirror neuron akan teraktifasi sehingga membuat otak meniru secara emosional. Kita merasa seperti mengalami apa yang kita tonton.
Tapi ada satu hal lagi yang membuat pengalaman ini terasa begitu menarik dan sulit dilepas: dopamin.
Dopamin
Dopamin bukan hormon bahagia! banyak yang masih salah memahami dopamin. Dopamin lebih tepat disebut hormon antisipasi dan motivasi, yang berperan untuk mendorong kita melakukan sesuatu.
Jadi fungsinya bukan bikin kita puas, tapi mendorong kita untuk “Fokus. Lanjutkan. Cari lagi.”
Hormon ini dirilis saat ada rangsangan hal baru, ada ketidakpastian, ada potensi reward, ada isyarat sosial (validasi, perhatian).
Scrolling menyediakan semua itu, dalam dosis kecil, cepat, dan terus-menerus.
Masalahnya, dopamin bekerja paling kuat sebelum kepuasan terjadi. Bukan saat kita mendapatkannya. Dan ketika mirror neuron dan dopamin bekerja bersamaan, terbentuklah satu pola yang sering kita alami tanpa sadar.
Cycle of Emptiness
Mirror neuron dan dopamin berperan besar dalam menciptakan kesenangan dan kehampaan itu sendiri. Polanya kira-kira seperti ini:
- Scrolling
- Mirror neuron aktif (kita ikut merasakan)
- Otak menilai ini relevan dan menarik
- Dopamin rilis, otak kaya bilang “fokus! ini mungkin ada reward.”
- Loop terbentuk. Bukan karena kepuasan, tapi karena harapan akan kepuasan berikutnya. lanjut scroll
- Pas coba berhenti: muncul rasa hampa. Dopamin menciptakan gap antara:
- imaji / potensi yang dijanjikan otak
- dan realitas hidup yang tidak berubah
- Tentu otak lebih milih scroll karena lebih hemat energi dibanding merubah realita yang boros energi.
- Lanjut scroll
Scrolling itu menyenangkan karena otak kita diberi ilusi pengalaman, emosi, dan makna, tanpa harus benar-benar hidup di dalamnya.
Dan justru di situ letak kehampaannya. Banyak rasa, sedikit realisasi. Banyak rangsangan, sedikit resolusi. Mungkin masalahnya bukan pada scrolling itu sendiri, tapi saat itu menjadi pengganti hidup, bukan jeda darinya.
