Semua Orang Punya Pilihan

Damasukma T

Damasukma T

· 5 min read
Thumbnail

Banyak sekali variabel yang tidak bisa dikontrol pada kehidupan manusia yang sangat mempengaruhi pilihan sepanjang hidupnya. Orang tua yang tidak bisa dipilih, tempat lahir yang tidak bisa dipilih, bahlil jadi menteri, dan banyak variabel lain yang semua itu tetap mempengaruhi hidup kita.

Free Will Hanya Untuk Orang Kaya

Gua sering ngelihat satu pola di mana orang dengan ekonomi menengah ke atas cenderung lebih yakin bahwa hidup mereka hasil dari pilihan mereka sendiri. Kerja keras, konsistensi, ambil risiko, lu miskin lu gob**k dan seterusnya. Pilihan berasa ada, karena memang dunia mereka relatif responsif terhadap keputusan.

Salah jurusan bisa pindah, salah kerja masih bisa resign, gagal bisnis masih ada tabungan. Kesalahan jarang langsung berubah jadi hukuman seumur hidup. Dari pengalaman yang seperti ini, wajar kalau muncul keyakinan bahwa “hidup ada di tangan gua”.

Sebaliknya, orang dengan kelas ekomoni menengah ke bawah sering hidup di dunia yang jauh lebih tidak ramah terhadap kesalahan. Usaha tidak selalu menghasilkan perubahan yang berarti. Pendidikan tinggi tidak menjamin mobilitas ekonomi. Satu keputusan yang keliru bisa berdampak panjang, bahkan permanen. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang mulai menjelaskan hidup lewat faktor eksternal: sistem, keaadaan, struktur, Jokowi, dll.

Secara teori, ini dekat dengan determinisme struktural— pandangan bahwa hidup dibentuk oleh sebab-sebab sosial dan ekonomi di luar kendali individu. Tapi dalam praktik sehari-hari, determinisme ini sering jatuh ke fatalisme: perasaan bahwa apa pun yang dilakukan, hasilnya akan sama saja. Bukan karena malas, tapi karena pengalaman hidup berulang kali mengajarkan bahwa usaha sering tidak sebanding dengan hasil.

Pola ini ternyata bukan cuma asumsi gua. Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 138 ribu orang di lebih dari 60 negara menemukan bahwa kelas sosial berkaitan kuat dengan sense of control (keyakinan kontrol pribadi) seberapa besar seseorang merasa hidupnya berada di bawah kendalinya sendiri [1].

Hasilnya konsisten: orang dari kelas sosial yang lebih tinggi cenderung lebih percaya bahwa hidup mereka bisa dikendalikan oleh pilihan dan tindakan mereka sendiri, sementara orang dari kelas sosial yang lebih rendah cenderung merasa hidup mereka lebih ditentukan oleh faktor eksternal.

Semua Orang Punya Pilihan, Tapi Ngga Semua Punya Banyak Pilihan

Masalah utamanya bukan apakah manusia punya pilihan atau tidak. Semua orang punya pilihan. Tapi jumlah, kualitas, dan risiko dari pilihan itu sangat berbeda.

Dua orang sama-sama “bebas memilih”, tapi yang satu memilih dari sepuluh pintu dengan lantai empuk di belakangnya, sementara yang lain memilih dari dua pintu dan salah satunya jurang. Menyamakan dua situasi ini sebagai kebebasan yang setara adalah penyederhanaan yang menyebalkan.

Daniel Dennett dan Kebebasan yang Masuk Akal

Di sinilah argumen pak Daniel Dennet jadi relevan. Dennett menolak dua ekstrim sekaligus: gagasan bahhwa manusia sepenuhnya bebas dari sebab-akibat, dan gagasn bahwa karena dunia deterministik maka pilihan manusia tidak berarti apa-apa.

Menurut beliau, perdebatan tentang kehendak bebas vs determinisme sering buntu karena kita keliru mendefinisikan kebebasan. Banyak orang membayangkan kebebasan sebagai kemampuan untuk bertindak tanpa sebab apa pun. Dannet menyebut ini kebabasan metafisik yang mustahil dan ngga dibutuhin juga.

Dalam pandangan Dennett, kebebasan bukan sesuatu yang hitam-putih. Ia hadir dalam derajat. Seseorang bebas sejauh ia memiliki kapasitas untuk memahami alasan, memprediksi konsekuensi, belajar dari kesalahan, dan menyesuaikan tindakan. Dengan kata lain, kebebasan adalah soal berapa banyak pilihan yang tersedia, dan seberapa besar ruang untuk salah tanpa hancur.

Dennett menyebut ini sebagai degrees of freedom. Dan degrees of freedom ini tidak muncul di ruang hampa, ia dibentuk oleh pendidikan, stabilitas ekonomi, jaringan sosial, dan kondisi hidup secara keseluruhan (deterministik) yang semua itu membatasi dan menyusun ruang kemungkinan.

Ketimpangan Ekonomi = Ketimpangan Kebabasan

Kalau pakai kacamata ini, ketimpangan ekonomi bukan cuma soal distribusi uang, tapi juga distribusi kebebabsan. Orang dengan sumber daya lebih besar punya lebih banyak ruang untuk menghindari masa depan yang buruk, oleh Dennett disebut evitablity. Mereka bisa mengoreksi kesalahan, mengubah arah, dan mencoba ulang. Dan bagi Dennett, secara fungsionalitas kebebasan bukan soal menciptakan masa depan apa pun, tapi soal kemampuan menghindari masa depan yang buruk.

Sebaliknya, bagi mereka yang hidup dengan margin kesalahan yang sangat tipis, kebebasan menjadi rapuh. Pilihan tetap ada, tapi setiap pilihan membawa risiko yang jauh lebih besar. Bukan karena mereka kurang rasional atau kurang berani, melainkan karena sistem tidak menyediakan ruang aman untuk gagal.

Penutup

Dalam kerangka ini, determinisme tidak meniadakan kehendak bebas manusia. Justru sebaliknya: kemampuan memilih adalah bagian dari mekanisme dunia yang deterministik itu sendiri. Kita bukan pencipta semua kemungkinan, tapi juga bukan objek yang pasif. Kita adalah makhluk yang terus-menerus menavigasi batasan.

Dan yang perlu kita lakukan, pada akhirnya, bukan memilih antara “semua tanggung jawab individu” atau “semua salah sistem”. Yang lebih masuk akal adalah mengakui keduanya sekaligus: manusia tetap bertanggung jawab atas pilihannya, tetapi keadilan menuntut agar dunia memberi cukup ruang bagi pilihan itu untuk benar-benar bekerja.

Terakhir,

perbedaan kelas sosial dan keyakinan kendali pribadinya mungkin justru mengurangi aspirasi kelas sosial bawah untuk naik ke tangga sosial dan dengan demikian melanggengkan ketidaksetaraan sosial

Referensi

[1] John, M., Boileau, L., & Bless, H. (2024). Effect of social class on personal control beliefs. Journal of Personality. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jopy.12872

[2] Dennett, D. C. (2003). Freedom Evolves. Viking.

Damasukma T

About Damasukma T

a man
Copyright © 2026 . All rights reserved.